Friday, 11 October 2013

"Diskusi Adzan"

Pembahasan pagi ini terasa berat.
Padahal hanya dimulai dengan hal-hal ringan.
"Adzan". Siapa? Bagaimana bisa? Alasannya apa?
Satu hal ini terasa ringan dibahas, awalnya, intermezo pembuka diskusi selanjutnya tentang sekarang dan masa depan.
Tapi akhirnya, things get more complicated. Sesak. Satu topik ini kemudian berubah seperti ketukan. Posisi. Status. Keadaan. Alasan. Ahhh.. Masalah!

Future.
What am I doing?
Masihkah waktu bisa disalahkan?
Masihkah keadaan bisa disalahkan?
Masihkah bisa hanya tetap menunggu dan pasrah?
Atau haruskah berhenti untuk berharap terlalu banyak?
Sungguh, butuh petunjuk. Sekedar penenang tidak cukup ampuh untuk mengobati pagi ini. Petunjukmu dan petunjuk-Nya. Itu kebutuhanku saat ini.

Dear darling, tidak ada yang bisa membantu kita kecuali kita sendiri.
Kekuatan hati dan keteguhan untuk menghadapi apa yang telah diatur-Nya di depan, hanya itu yang bisa kuharap. Kuterima setiap garis yang dituliskan-Nya untuk kehidupan kita selanjutnya. Kamu adalah tanggungjawabku, penuh. Adzan untukmu dan setiap langkah perubahan dalam hidupmu adalah pasrahku dan takdirmu, takdir kita. Kamu tidak akan pernah lepas berjauhan sedikitpun dari garisku. Sesuai atau tidak dengan harapan keajaibanku, kamu akan tetap bahagia. Itu janjiku. Kesedihanku sedikit pun tidak akan menganggumu. Percaya bahwa semua bisa kita lakukan. Bahagia dan cukup, seperti keinginannya.

Dear our half soul, ada lah selalu untuk kami. Be our miracle.

No comments:

Post a Comment